Aksi Kapal Ramah Lingkungan Odyssey Singgah Di Jakarta

Bahkan mereka perlu menunggangi onta dan kuda untuk mencapai basecamp. Prof. Djoko memiliki harapan untuk generasi mendatang agar menjadi penerus dalam menemukan identitas Indonesia, yaitu keanekaragaman hayati yang negara ini miliki. “Nomor satu, yang selalu saya tekankan adalah, bekerjalah dengan keanekaragaman Indonesia. Ada 100 orang seperti saya pun tidak akan menyelesaikan problema katak saja.

Lokasi Pembelajaran Lingkungan secara Terpadu bagi masyarakat lokal yang menawarkan berbagai bentuk kegiatan pendidikan yang terfokus pada ilmu pengetahuan terapan dan interaksi langsung dengan alam. Kampung Konservasi menawarkan berbagai fasilitas antara lain perpustakaan, mini-theater, demplot perikanan, dan berbagai media lainnya untuk menunjang kegiatan pembelajaran. Tidak semua hasil pencarian, terutama jika kata yang dicari terdisi dari 2 atau three Kong4D Slot huruf, akan ditampilkan semua.

berekspedisi

Saya kerap terbangun tiba-tiba, dan mendapati baju saya sudah penuh dengan peluh. Berniat untuk memejamkan mata lagi, tapi saya kehabisan kata dengan taburan bintang yang menghiasi langit Dallol malam itu. Saya bertemu dengan Abebe, seorang penggali garam yang bekerja di Afar.

Hanya 15-20% limbah plastik yang saat ini dikumpulkan untuk di daur ulang. Lebih dari setengah bahan yang dikumpulkan ini tidak dapat didaur ulang karena alasan kesehatan, keselamatan, kualitas, dan kontaminasi,” ujarnya. Bahkan, pada ekspedisi pertama Odyssey, mereka membuat studi dengan pengambilan beberapa sampel yang berkolaborasi dengan universitas. Hasil studi menunjukkan, larva ikan yang sengaja diberi makan mikroplastik mengalami perubahan bentuk pada badan. Fungsi dan sistem tubuh ikan pun turut menurun sehingga meningkatkan dampak kematian yang tinggi. Pada tahun 2015, Race For Water meluncurkan Odyssey pertamanya untuk membuat penilaian world terhadap polusi plastik laut.

Bongkahan-bongkahan batu magma berwarna hitam dan berukuran besar bertebaran di sepanjang jalan. Kadang saya harus berpegangan pada bagian ujung mobil karena medan yang terlalu bumpy. Hingga akhirnya saya sampai ke kamp militer perbatasan Ethiopia dan Eritrea. Ini merupakan titik awal trekking untuk melihat Erta Ale di atas. Malam itu, saya tidur di atas bale-bale berlapis sleeping bag – yang berhasil saya pinjam dari salah satu teman. Sangat sulit untuk menutup mata, terlebih saat suhu mencapai 36 derajat Celsius di malam hari.

Bahkan, dahulu garam adalah salah satu bentuk mata uang yang dipakai oleh masyarakat Afar. Keluar dari kota Makale, pemandangan lanskap berubah menjadi bukit-bukit tandus yang diselingi oasis pohon palem. Saya pun melewati beberapa dusun kecil dengan rumah-rumah yang dindingnya terbuat dari tanah liat dan beratapkan seng. Terlihat beberapa rumah dicat dengan warna biru dan hijau, sedangkan yang lainnya dibiarkan dengan warna alami tanah liat, cokelat tua. Pagi itu, mobil Jeep berwarna putih sudah parkir tepat di depan penginapan.