Gaya Kepemimpinan Dalam Produktivitas Kerja

Contoh adaptive challenge adalah masalah mengenai konflik pada organisasi, upah, lembur dan lain sebagainya. Pada umumnya persoalan adaptive challenge adalah yang berkaitan dengan manusia. Manusia yang sejatinya sebagai mahluk yang dibangun dengan berbagai emosi, memerlukan pendekatan secara emosi untuk menyelesaikan adaptive problem bukan dengan pendekatan teknis. Heifets & Laurie menyebutkan bahwa kegagalan terbesar dari seorang pemimpin adalah ketika menyelesaikan persoalan adaptif diselesaikan secara teknis.

Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Jika sifat-sifat kepemimpinan dari Asthabrata dimiliki oleh semua pemimpin masa kini, maka diharapkan krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin tidak akan terjadi. Jangan sampai para pemimpin yang meninggalkan ajaran-ajaran kepemimpinan ini. Pemimpin zaman sekarang kurang mengusahakan kemakmuran bagi rakyatnya, justru berusaha untuk memakmurkan dirinya sendiri. Banyak pemimpin melakukan praktek KKN untuk mensejahterakan dirinya serta kerabatnya, sedangkan rakyat yang dipimpinnya menderita.

memiliki sebuah sikap kepemimpinan

Berapa banyak pemimpin yang masih mau mendengar suatu nasihat, terutama ketika posisinya sedang di puncak? Beberapa malah bertahan dalam egonya dan berpikir bahwa ia dapat menyelesaikan segala masalah sendiri. Dengan tujuan tersebutm maka Anda akan fokus dan berusaha untuk mencari penyelesaian manakala sedang terjebak di suatu masalah yang menghambat. Kemampuan untuk mengendalikan emosi memang menjadi sebuah kebutuhan yang harus dimiliki oleh setiap pekerja profesional, terlebih seorang pemimpin. Untuk menjadi seorang yang tegas, Anda tidak harus meluapkan emosi begitu saja. Selain membuat Anda terlihat profesional, Anda juga mampu membuat rekan kerja merasa nyaman untuk bekerja bersama Anda.

Tentunya sangat besar tanggungjawab jawab seorang pembina layanan publik karena harus selalu dapat memastikan pelayanan yang diberikan berkualitas. Pemimpin visioner harus mampu dengan teratur mengambil bagian dalam pelatihan dan berbagai jenis pengembangan lainnya, baik di dalam maupun di luar organisasi. Pemimpin visioner mampu menguji setiap interaksi, negatif atau positif, sehingga mampu mempelajari situasi. Pemimpin visioner mampu mengejar peluang untuk bekerjasama dan mengambil bagian dalam proyek yang dapat memperluas pengetahuan, memberikan tantangan berpikir dan mengembangkan imajinasi. Pemimpin visioner menyadari bahwa dalam rangka mencapai sasara dirinya, dia harus menciptakan hubungan yang harmonis baik ke dalam maupun ke luar organisasi.

Sila pertama dari Pancasila, secara jelas ditindaklanjuti Pasal 29 ayat UUD 1945 yang berbunyi negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Ketentuan ini menjadi dasar penghormatan dasar untuk memperkuat persatuan dan persaudaraan. Hal ini nampak dari pemikiran Soepomo ketika menulis Penjelasan UUD 1945. Negara hukum dipahami sebagai konsep Barat, sampai pada kesimpulan bahwa negara hukum adalah konsep trendy yang tidak tumbuh dari dalam masyarakat Indonesia sendiri. Dalam pandangan Soepomo, ada dua cara pandang dalam melihat hubungan masyarakat, yaitu; pertama, cara pandang individualistik atau asas perseorangan, di mana perseorangan lebih diutamakan dibandingkan dengan organisasi atau masyarakat. Kedua, cara pandang integralistik atau asas kekeluargaan, dimana masyarakat diutamakan dibandingkan dengan perseorangan.